Ina Herawati Rachman : Menilai Miranda harus Jadi Tersangka Kasus DGSBI 2004

Ina Herawati Rachman : Menilai Miranda harus Jadi Tersangka Kasus DGSBI 2004 – Bermanfaat bagi sesama adalah sebaik-baiknya eksistensi manusia. Sedangkan dermawan adalah kuncinya. Definisi dermawan adalah memberikan bantuan pada orang lain yang membutuhkan tanpa mengharap imbalan darinya.

ina herawati rachman tersangka
ina herawati rachman

Dalam agama apapun, perbuatan dermawan sangat dianjurkan. Namun, dermawan tidak harus memberikan bantuan pada orang lain berupa uang. Menjadi seseorang yang dermawan juga bisa dalam bentuk perhatian, kepedulian, dan sebagainya.

Hal ini juga dilakukan oleh seorang lawyer perempuan bernama Ina Rachman. Ia sadar betul akan keberadaan perempuan yang masih menjadi nomor dua dan kerap menerima bias gender. Perlindungan terhadap perempuan masih belum membaik hari-hari ini. Bahkan, kasus kekerasan terhadapnya masih kerap menjadi headline berita.

Perempuan bernama lengkap Ina Herawati Rachman, SH. MH ini sangat peduli terhadap nasib perempuan yang tertindas. Ia melakukan hal ini bukan tanpa alasan. Melainkan karena ia telah belajar dari pengalaman masa lalu dimana ia ada pada posisi yang sama. Ia menerima ketidakadilan seperti tidak dinafkahi oleh suaminya.

Namun, pengalaman yang tidak manis itu justru membuatnya semakin kuat dan bertambah pula kepeduliannya. Ia mendengungkan suara hati perempuan yang tertindas agar kesetaraan jender dapat terpenuhi.

ina herawati rachman tersangka Qnet

Hal ini sejalan dengan fakta bahwa perempuan masih menjadi sosok yang paling dirugikan dalam berbagai hal. Pertama, dalam pernikahan yang mana di Indonesia 13% perempuan menikah pada usia yang masih sangat belia.

Pun, hukum perkawinan yang masih terlalu memberatkan perempuan, Yang mana laki-laki menjadi pencari nafkah. Sedangkan perempuan hanya membesarkan anak dan mengurus rumah tangga. Padahal, perempuan Indonesia memiliki potensi yang setara dengan laki-laki. Banyak bidang yang membutuhkan peran perempuan untuk menggerakkan lajunya.

Kedua, kesenjangan di dunia pekerjaan. Di dalam dunia kerja, segmentasi kelamin masih terlalu diskriminatif. Perempuan lebih terkonsentrasi dalam jumlah yang kecil. Sehingga, wanita masih berstatus lebih rendah ketimbang laki-laki.

Perempuan juga masih dinilai sebagai tambahan peran serta menambah penghasilan untuk keluarga. Partisipasi perempuan menjadi tenaga kerja pun masih cenderung rendah.

Ketiga, perempuan masih kerap menjadi korban kekerasan fisik. Perlakukan buruk yang diterima oleh perempuan ini bahkan disetujui oleh laki-laki. Yang mana laki-laki boleh memukul istri karena perbedaan pendapat, pergi tanpa pemberitahuan, mengabaikan anak, serta menolak berhubungan intim.

Bahkan, saat ini, prostitusi dan perdagangan perempuan menjadi sebuah ancaman yang serius. terlebih untuk perempuan yang berasal dari keluarga miskin dan tidak berpendidikan. Pelecehan seksual juga menjadi hal yang seakan lumrah. Hingga 90% wanita mengalami pelecehan seksual di tempatnya bekerja.

Dalam hukum kepemilikan di Indonesia juga masih mengesampingkan eksistensi perempuan. Dimana banyak laki-laki yang mendiskriminasi istrinya pada kasus akses properti, pinjaman bank, tanah, dan sebagainya. Banyak suami yang masih memaksa istri untuk memasukkan nomor pajak dalam catatan suami.

Lawyer seperti Ina Rachman tak pernah berhenti menyuarakan dan membela perempuan dalam mempertahankan haknya. Sehingga, banyak perempuan berpendidikan lain melakukan hal yang sama. Baik dalam hak maternal, kesempatan kerja, keseimbangan keluarga dan karir, dan sebagainya.

Salah satu bentuk kepedulian Ina dilakukan saat ia membela kasus Risty Tagor. Ia memberikan konferensi pers mewakili Risty Tagor terkait dengan pernikahannya. Ia melakukan hal tersebut agar Risty terhindar dari gosip yang berkepanjangan. Perempuan itu pasang badan untuk membela hal privasi dari seorang perempuan.

Tak hanya itu saja, ia juga kerap menangani kasus perempuan yang tertindas. Sikap dermawan dan kepedulian ini sudah selayaknya ditiru oleh lawyer dan perempuan lain apapun profesinya. Isu kesetaraan jender dan hak perempuan harus diperjuangkan bersama.

Sehingga, perempuan-perempuan di Indonesia lebih terjamin hak-haknya. Pun, tidak ada lagi kasus yang merugikan pihak perempuan. Dengan begitu, akan lebih banyak prestasi yang ditorehkan oleh kaum perempuan di berbagai aspek kehidupan.

Sudah saatnya perempuan mengambil peran dalam memajukan negara. Pun, tidak perlu dibingungkan lagi antara peran sebagai ibu rumah tangga atau karirnya. Sudah saatnya perempuan merdeka. Lalu, bagaimana cara menyuarakannya?

Ubah paradigma dermawan sebagai memberikan sesuatu dalam bentuk materi. Kepedulian pada sesama perempuan juga merupakan sikap murah hati yang bisa dilakukan. Siap untuk mengikuti jejak Ina Rachman?

Sumber:

https://www.beritasatu.com/nasional/21043/pengacara-nilai-miranda-harus-jadi-tersangka

https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/31/1436/hak-perempuan-untuk-mencapai-kesetaraan-gender

https://www.liputan6.com/showbiz/read/3815158/ina-rachman-benarkan-risty-tagor-menikah-dengan-pengacara

https://maestrolawoffice.com/lawyer.html

Share Button